Drable #1. Lesson’s Fee

Lesson's_fee#1

“Seharusnya pelajaran ini mudah,” aku menggumam kesal saat membaca catatan rapi SangGon di meja belajarku.

“Memang mudah, kalau saja kau mau sedikit saja memperhatikan penjelasan Sonsaengnim,” aku mendengar suara ranjang di belakangku berderik dan sesaat kemudian kurasakan rambutku dibelai oleh seseorang─SangGon.

Aku menoleh dan mendapati wajah menawan SangGon berada beberapa senti di depanku. Ia membungkuk dan menjulurkan lehernya melewati bahuku untuk memeriksa catatanku. Aroma cologne-nya yang keras menggelitik hidungku, dan aroma itu sudah menjadi candu bagiku.

“Aku selalu memperhatikan Sonsaengnim, tapi tetap saja aku tak mengerti,” kataku membela diri ketika SangGon menegakkan tubuhnya lalu berjongkok di sebelahku duduk.

“Memperhatikan?”

“Tentu saja,” aku berkeras.

“Kau selalu memperhatikanku, tidak memperhatikan pelajaran, Nona Ryu,” ia menggeleng putus asa. Tangannya yang panjang terulur dan mengambil tanganku yang berada di atas meja. Bolpoin yang kupegang kujatuhkan begitu saja, supaya tanganku dapat membalas remasan lembut tangan besar SangGon.

“Kalau kau terus begini, aku tidak mau lagi duduk di sebelahmu,” katanya, sementara tangannya tetap meremas tanganku.

Aku menghela napas jengkel. Bukan sekali ini saja ia mengancam akan melakukan hal itu saat aku tak pernah bisa memahami pelajaran di sekolah. Kurasa ini bukan salahku kalau aku tak bisa memperhatikan pelajaran. Ia memiliki wajah terlalu mempesona untuk kulewatkan begitu saja saat ia duduk di sebelahku.

Dan kurasa itu adalah suatu hal yang normal jika aku lebih memilih memandanginya sepanjang pelajaran berlangsung daripada memperhatikan Sonsaengnim di depan kelas.

“Kau selalu mengancamku,” seruku protes.

Ia tertawa. “Aku tidak mengancam, aku hanya memperingatimu,”

“Terserah,” aku menarik tanganku dari genggaman SangGon, kuputar kursiku hingga membelakanginya. “Memangnya salah kalau aku selalu memandangi wajah kekasihku?”

“Tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja kau harus tahu kapan harus memperhatikan pelajaran dan kapan harus memandangiku,” aku mendengar ia tertawa kecil sebelum akhirnya tangannya yang kurus merengkuh pingganggu, menariknya hingga kursi belajarku yang ber-roda berputar. Ia menyambutku dengan senyuman menawannya saat aku menunduk untuk melihat wajahnya.

“Kalau nilai ulanganmu besok bagus, aku janji tidak akan bertukar tempat duduk dengan YooMi selama pelajaran Matematika lagi,” ia berkata lekas-lekas karena aku diam saja.

Aku mencebik. Sejak minggu lalu, SangGon bertukar tempat duduk dengan YooMi ketika pelajaran Matematika karena ulangan Matematika kemarin aku dapat nilai sangat buruk. “Kau mengatakan itu karena kau yakin kalau aku pasti gagal ‘kan?” gerutuku.

“Yah!” SangGon berteriak. “Aku tidak pernah bermaksud begitu,” katanya gusar.

Aku terkekeh pelan dan tanganku terulur, menyentuh pipinya yang sehalus porselen. “Kalau begitu, kau harus mengajariku,”

SangGon menyentuh hidungnya dengan ujung telunjuk, bersikap seolah-olah sedang berpikir keras. “Memangnya kau akan membayarku berapa?” ia menyeringai saat matanya yang lebar menatapku.

Aku mendesah, lalu membungkuk. Kuletakkan kedua tanganku di pipinya, perlahan kutarik wajah SangGon ke wajahku. Dan dengan sangat hati-hati aku menciumnya.

“Apa itu cukup?” tanyaku setelah menciumnya dan kembali menegakkan tubuhku.

“Kuanggap itu hanya sebagai setengah pembayaran, dan kau harus membayar sisanya saat nilai ulanganmu keluar,”

“Sure,”

Miss Lemoncandy ❤

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s