Another Me: 2.Real Story

A

 

 

~Another Me : 2. Real Story

Author : Adminchan
Genre : Romance, Family, Chapter
Rating : PG 17
Casts :
– Kim Sunggyu [INFINITE]
– Lee Sungyeol [INFINITE]
-Lee Minyeol [Fiktif]
-Kim Nari [Fiktif]

Aku berdiri di sisi mobil, mengira-ngira apa mobil mewah ini juga mobilnya. Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di seberangnya. “Masuk!”

“Tapi, bagaimana dengan sepedaku?” aku memandang ke ujung lapangan parkir, melihat sepedaku.

“Kau ingin kita pergi ke Gwangju naik sepeda? Bisa sampai nanti malam kita,” protesnya.

Aku menyerah dan masuk ke dalam mobil, aroma lilac langsung menyergap indra penciumanku. “Ini mobilmu?” tanyaku saat Sunggyu menyalakan mesin.

“Tentu saja, kau pikir aku akan memakai mobil orang sembarangan,” suaranya membuatku bergidik, terlalu merdu.

“Jadi, apa nama mobil ini?” aku terlihat begitu bodoh saat ini, tapi daripada tak ada yang kubicarakan, aku rela terlihat bodoh di depan Sunggyu.

“Audi R8 Spyder,” jawabnya sambil menekan sebuah tombol, dan tiba-tiba saja atap mobil terbuka perlahan, terlipat ke kap belakang.

Aku terkejut, bersamaan dengan itu dia menyetel musik dari perangkat audio mobil yang begitu mewah, tapi lebih mewah milik Rolls Royce kemarin. Aku berkonsentrasi pada musik daripada berpikir untuk mengajak Sunggyu bicara lagi. Dan telingaku menangkap sebuah suara yang familiar begitu intro lagu berganti menjadi suara si penyanyi. Aku menggeleng, meragukan telingaku yang menebak kalau ini adalah suara Sunggyu.

Tapi lirikan Sunggyu kearahku seakan menjadi tanda kalau dia ingin memberitahuku tentang sesuatu. “Kau yang menyanyikan ini?” tanyaku tanpa tertahan lagi.

Sunggyu mengangguk, tersenyum lebar memamerkan giginya yang sempurna. “Kau tidak tahu tentang grup band ‘Beat’?”

Pertanyaannya kusambut dengan gelengan. “Tidak. Aku belum pernah mendengar nama band seperti itu,”

“Benarkah?” Sunggyu memekik, menoleh sekilas padaku dengan tatapan begitu heran. “Kau bilang kau suka padaku,”

“Eh, memang aku menyukaimu. Kenapa?”

“Kalau kau benar-benar menyukaiku, kau pasti tahu tentang ‘Beat’ yang begitu terkenal di sekolah kita,”

Aku menunduk, takut dia akan tahu kalau aku pura-pura menyukainya. “Maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu,”

“Itu band-ku di sekolah, aku sebagai vokalisnya. Kemana saja kau selama ini?” suaranya terdengar mengejek, tapi lebih sabar dari biasanya.

“Oh, benarkah?” pekikku was-was. Bagaimana aku tidak tahu tentang hal itu? Seharusnya aku mencari informasi tentangnya lebih banyak lagi. “Aku tidak pernah datang ke acara sekolah yang diadakan oleh para siswa, aku terlalu sibuk jadi tidak tahu tentang itu. Maafkan aku.”

Sunggyu tak bereaksi, hanya melajukan mobil lebih kencang hingga rambutku yang tergerai berkibar-kibar tersapu angin. Aku memegangi ujung-ujung rambutku, tak ingin angin membuatnya kusut dan sulit dirapikan.

“Kau harus membiasakan diri seperti ini kalau sudah menjadi pasangan kencan sungguhan-ku nanti,”

Wajahku memanas mendengar ucapan Sunggyu, bukan marah, tapi malu. Kuharap ini bukan pertanda buruk. Aku tak ingin terjebak dalam rencanaku sendiri. Tidak. Kualihkan pikiranku dengan menikmati sengatan cahaya matahari musim semi di kulitku, hangat—sedikit lebih hangat dari cahaya matahari musim dingin.

Mobil berhenti di parkiran sebuah restauran Prancis. Sunggyu menekan lagi tombol yang tadi, dan atap mobil tertutup. Dia mengambil tas sekolahku dan melemparkannya ke jok belakang bersama tas sekolahnya.

Dia menyuruhku turun dengan tatapan matanya yang keras. Aku menurut, turun lebih cepat darinya. Kupandangi dia yang turun dengan gerakan anggun dari mobilnya yang rendah. Dan aku baru tersadar, dia begitu menawan dengan seragam musim seminya itu. Setelan blazer polyester cokelat pucat, dalaman kemeja putih dan celana plaid satu tone lebih gelap dari warna blazernya. Kupikir selama ini, Sungyeol adalah satu-satunya pria yang bisa terlihat memukau dengan pakaian seperti itu, tapi ternyata Sunggyu juga bisa.

“Kau ingin aku menyeretmu lagi?” ancam Sunggyu melihatku yang berdiri mematung di sebelah mobil.

Aku terkesiap dan mengikutinya masuk ke dalam restauran berdesain kolonial yang sangat besar itu. Aku menoleh kesana-kemari, memandangi suasana di dalam restauran yang dua kali lebih mewah dari ‘Le Chateaux’ tempatku bekerja. Lantai kayu, bata merah dan ornamen-ornamen klasik khas zaman Victorian. Warna krem dan cokelat muda mendominasi semua perabotnya.

Sunggyu menyenggol lenganku yang untuk beberapa saat larut menilai desain interior tempat ini. Aku tergeragap dan segera duduk di kursi kayu berlapis spons terbalut kain wol khasmir berwarna cokelat muda. Sangat lembut.

Seorang pelayan berpakaian maid ala Perancis yang rambutnya di kuncir ekor kuda menghampiri kami dengan dua buah buku menu. Dia melirik Sunggyu diam-diam saat menyerahkan satu buku menunya padaku, wajahnya memerah tiba-tiba. Namun dia menjadi gugup saat Sunggyu mengangkat wajah dari buku menu yang dibacanya, dia pura-pura tak memandangi Sunggyu.

“Kau ingin makan apa?” tanya Sunggyu, dia tahu kalau aku belum membuka buku menu di tanganku.

“Aku?” kubuka buku itu cepat-cepat, dan membaca menunya sekilas. “Sup charcuterie dan Pouilly-Fume,” jawabku menyerah. Aku benar-benar tidak lapar, lagipula makanan seperti itu sudah familiar di tempatku bekerja.

Sunggyu mengernyit. “Kau tidak salah? Memang berapa usiamu, kenapa memesan anggur juga?”

“Yeah, itu hanya anggur putih ringan. Remaja tujuh belas tahun sudah boleh meminumnya,” sergahku malas. Dan pelayan di samping Sunggyu memandangku tak senang.

Sunggyu menyeringai. “Kalau begitu pesananku sama dengan dia,” dia mengangguk padaku saat berbicara pada pelayan yang menunggunya dengan gelisah.

“Baik master.” ucapnya dan berlalu dari meja kami. Aku sedikit terkejut dia menggunakan kata ‘master’ untuk pengunjung, seperti di tempatku bekerja. Mungkin saja gelar ‘master’ untuk tamu sedang terkenal saat ini, jadi tak ada yang aneh.

“Aku bahkan tak berpikir Sunbae akan mengajakku ke tempat semacam ini dalam keadaan berseragam sekolah,” aku memprotesnya.

“Kurasa tak ada masalah, memangnya kenapa?” bantahnya. Dia mencondongkan tubuh pada meja dengan bertumpu pada lengannya, sementara tangannya yang bebas memainkan rambut cokelat karamelnya malas.

“Tidak apa-apa, hanya terlalu mewah,” ucapku berlagak polos.

Kami berhenti mengobrol saat seorang pelayan datang, bukan yang tadi, tapi sepertinya dia sudah mendengar tentang Sunggyu dari pelayan sebelumnya. Dia datang dengan wajah penuh harapan dan langsung terkesima melihat Sunggyu. Dia meletakkan pesanan kami pelan-pelan, agar bisa melihat Sunggyu lebih lama, mungkin.

Dengan hati-hati dia meletakkan satu gelas anggur berbahan kristal kontemporer di hadapanku dan satu lagi di hadapan Sunggyu. Dan membuka sebotol anggur, lalu menuangkannya untuk kami. Aroma anggur putih itu langsung menyeruak, menggoda.

Ada satu sisi dari Sunggyu yang bisa kuterima dengan senang hati, dia pendiam saat makan dan terus berkonsentrasi pada makanan, sama sepertiku. Jadi aku tak perlu merasa tidak nyaman, makan bersamanya seperti ini.

Aku mengangkat gelas anggurku dan menandaskan isinya setelah makananku habis. Anggur yang ringan dan lezat, aku sering meminumnya saat manager di Le Chateaux sedang baik hati dan mentraktir para bawahannya minum.

Sunggyu memanggil pelayan, untuk meminta bon. Oh, tidak dia tidak meminta bon, hanya mengatakan sesuatu pada pelayan itu sambil berbisik. Dan pelayan itu pergi setelah tersenyum manis pada Sunggyu.

“Kenapa dia pergi?” tanyaku ingin tahu sambil mengusap mulutku dengan serbet yang begitu halus.

“Tidak apa-apa, mari pergi!” Sunggyu menarikku pergi dari kursiku. Aku jadi malu saat semua pengunjung yang melihat hal ini terus menatap kami sampai kami tiba di luar restauran.

Aku terkejut begitu sampai di dalam mobil, jam digital di dasbor mobil Sunggyu mencetak angka 06.18. Aku harus berada di Le Chateaux pukul tujuh, dan sekarang aku masih berada di Gwangju. Aku berpikir keras untuk mencari alasan kalau sampai terlambat nanti.

“Sunbae, bisa tolong lebih cepat sedikit?” pintaku saat Sunggyu baru saja menjalankan mobil.

“Ada apa?” dia menginjak pedal gas, dan mobil melaju lebih kencang.

“Aku harus kerja paruh waktu, juga masih harus mengambil sepedaku di parkiran sekolah,” jelasku jujur.

“Aku bisa mengantarmu ke tempat kerjamu langsung,” suara Sunggyu kembali terdengar angkuh, padahal selama di restauran tadi dia sedikit sabar

“Oh, terimakasih. Tapi aku tak ingin merepotkan Sunbae,”

Hening. Kami sama-sama terdiam dan Sunggyu tak memaksakan kehendaknya untuk mengantarku. Dia hanya berkonsentrasi menyetir, sangat cepat. Kelebatan kota di sisi kami membuatku mual saat memandanginya. Dan akhirnya, dalam dua puluh lima menit dia berhasil membawa mobil sampai di sekolah.

Aku menjulurkan tubuh ke jok belakang untuk mengambil tasku, Sunggyu berniat membantu tapi hal itu justru membuat aku semakin kesulitan. Wajah kami sangat dekat, dan saat aku menoleh mata kami bertemu pandang. Alam bawah sadarku berpegangan dengan kuat, berusaha agar tak meleleh karena pesona mata sipit itu.

“Oh,” Sunggyu membuang muka dan menghempaskan tubuhnya pada jok abu-abu mudanya lagi. Membiarkanku mengambil tasku sendiri.

Aku mendesah lega, setelah berhasil mengambilnya. “Sunbae, boleh aku meminta nomor ponselmu?” tiba-tiba aku menemukan trik baru yang ingin kucoba.

“Untuk apa?” suaranya datar.

“Untuk jaga-jaga, siapa tahu mendadak aku merindukan suara Sunbae,” kata-kata macam apa yang kugunakan sekarang ini? Begitu kekanakan.

“Masukkan saja nomormu di ponselku, nanti aku akan menghubungimu,” dia menyerahkan ponselnya padaku. Aku menerimanya dan memasukkan nomorku di daftar kontak.

“Aku memberi nama ‘My SweetYeol’ untuk nama kontakku,” aku terkekeh sambil mengembalikan ponselnya, dan bergegas keluar mobil.

Aku berlari masuk ke gerbang sekolah, untung saja masih ada murid-murid beberapa klub yang beraktivitas, jadi gerbang belum di tutup. Setelah mengambil sepeda, aku langsung pergi cepat-cepat ke Le Chateaux.

* * * *

Aku sampai di apartemen agak terlambat, manager Nam menghukumku karena aku terlambat tadi.

“Sungyeol-ah!” entah kenapa aku tak bisa menghapus kebiasaan untuk meneriaki Sungyeol setiap aku pulang.

“Disini,” pekik Sungyeol dari kamar, dan aku langsung menghampirinya.

Pemandangan klasik yang selalu kulihat sepulang bekerja, adikku yang tampan itu tengah sibuk dengan buku-bukunya di meja belajar dan sekaleng kopi berada di tangannya. Aku meletakkan tas di meja belajarku dan duduk di sampingnya.

Sungyeol menutup bukunya, lalu memutar tubuhnya hingga menghadapku. “Noona, bisakah kau berhenti bekerja di tempat yang membuatmu selalu kelelahan itu?” matanya yang selebar mataku terlihat tegas.

Aku menarik napas. Bukan sekali ini saja dia memintaku untuk berhenti bekerja setiap aku pulang terlambat. “Yeollie, aku harus membantu Appa mencari uang. Membiayai sekolah kita saja sudah membuat Appa kewalahan sampai bekerja ke luar negeri, apalagi kalau harus membiayai keperluan kita sehari-hari?” tukasku retorik.

Wajah Sungyeol mengeras. “Tapi kau tak pernah membiarkanku ikut bekerja denganmu, sebagai adik lelakimu aku merasa tidak berguna.”

“Siapa bilang, melihatmu bisa belajar dan sekolah dengan tenang, itu sudah membuat aku dan Appa bahagia. Kau begitu berguna dan sangat berarti untuk kami.”

“Oh, ayolah Noona. Berhenti bersikap seperti seorang ibu padaku, kau hanya sembilan menit lebih tua dariku.” Sungyeol menatapku kesal. “Kau bahkan tak pernah memikirkan kehidupanmu sendiri, kau hanya memikirkanku,”

Darahku membeku, lidahku tak sanggup menyanggah ucapan Sungyeol yang begitu berapi-api itu. Apa sikapku selama ini justru membebaninya? Sejak ibu kami meninggal ketika kami masih lima tahun, aku memang selalu ingin berbuat yang terbaik untuk mengurus Sungyeol. Aku berusaha menjadi seorang kakak dan juga seorang ibu baginya.

Dadaku sesak, mendorong udara keluar dari tubuhku dalam bentuk sedu sedan seiring dengan bulir-bulir air yang mengalir dari mataku. Aku selalu menangis tanpa suara seperti ini, tapi kali ini rasanya lebih sesak dan lebih sakit dari biasanya. Pandanganku semakin kabur, tak bisa melihat Sungyeol dengan jelas lagi.

“Maaf, kalau selama ini kau terbebani dengan sikapku yang berlebihan,” ucapku di sela isakan yang menyakitkan ini.

“Noona, Noona berhentilah menangis. Aku tidak terbebani, aku senang mempunyai Noona sepertimu, aku menyayangimu.” Sungyeol menarikku berdiri dan merengkuh tubuhku dalam pelukan hangatnya.

Sedu sedan semakin terlontar dengan sering dari dadaku, tangisku semakin parah, bahkan aku tak sanggup menghentikannya. Sungyeol berusaha menenangkanku, tapi tidak berhasil. Dia justru ikut menangis bersamaku.

* * * *

Aku memandangi Nari dan Sungyeol yang hari ini berpamitan akan pergi kencan sepulang sekolah. Mereka meninggalkanku di dalam kelas yang mulai sepi, dan aku sendirian. Mataku berat, aku begitu ingin tidur, mengingat semalam aku dan Sungyeol tidur telat karena menangis hampir sepanjang malam.

Aku meletakkan kepalaku ke atas meja, dan nyaris tertidur kalau saja ponselku tidak bergetar tiba-tiba. Dengan mengantuk aku mengambilnya dari dalam tas, dan menjawab panggilan. “Yeoboseyo,”

“Kau tidak lupa kalau hari ini kita masih harus pergi ‘kencan percobaan’, ‘kan?”

Aku tergeragap dan segera bangkit dari kursiku. “Oh, tentu saja tidak. Aku akan pergi ke kelas Sunbae,” lekas-lekas aku mematikan telepon , menarik tas lusuhku lalu melangkah meninggalkan kelas. Aku tak tahu seberapa mengantuknya aku, hingga tanpa sadar menabrak seseorang di depan pintu kelas.

Tubuhku hampir remuk karena tubuh yang kutabrak begitu keras, kakiku mundur beberapa langkah dan aku terhuyung ke dinding di sebelahku. Begitu mendongak, aku melihat si Angkuh telah berdiri di depanku. Wajahnya sekeras tubuhnya yang barusan kutabrak.

“Maaf,” aku menekankan sebelah tanganku pada dinding agar tubuhku tak terjatuh.

“Kau kenapa?” suara Sunggyu yang merdu semakin menambah kantukku.

Aku menggeleng, berusaha menegakkan tubuhku dan melebarkan mata. “Tidak apa-apa,”

“Hari ini kau yang menentukan tempat ‘kencan’!” tubuku tersentak karena Sunggyu menarikku dengan kasar, lebih tepatnya menarik bajuku. Aku mengikutinya, hanya itu yang bisa kulakukan agar tidak terjengkang ke belakang. Kalaupun aku jatuh, barangkali ia akan tetap menyeretku.

Dia membawaku ke Audinya lagi, seperti kemarin. Aku langsung menempatkan diri dengan nyaman di jok mewahnya, dan memasang sabuk pengaman. Mataku masih mengantuk, ditambah lagi dengan aroma lilac yang seakan-akan mengelus-ngelus mataku agar terpejam.

“Sunbae, kau saja yang menentukan tempat kencan,” erangku parau di sela-sela kantukku.

Sunggyu menoleh dan mengarahkan tangannya pada tombol pembuka atap kemarin. Tanganku melayang dan mendarat di lengannya, mencegahnya untuk membuka atap.

“Maaf, bisakah kau biarkan atapnya begini saja?”

Sunggyu mendengus kesal dan menarik lengannya dari tanganku. Sementara aku menyandarkan kepalaku pada sandaran jok yang empuk. “Tolong bangunkan aku jika sudah sampai di tempat kencannya,” itu kata terakhir yang berhasil kuucapkan dengan jelas sebelum akhirnya tertidur.

Nyaman, sangat nyaman. Aku memimpikan Sunggyu dan aku jadi tak ingin bangun, takut mimpiku jadi kenyataan. Aku tak mau benar-benar jatuh cinta padanya. Saat semua bayangan tentang Sunggyu lenyap, aku telah berada dalam titik lelapku yang tertinggi. Tak ada mimpi, hanya ada kenyamanan yang kurasakan membuai tubuhku.

Entah seberapa lama aku menikmati kenyamanan itu, hingga akhirnya kantuk meninggalkanku. Mataku yang berat membuka dengan susah payah. Aku masih berada dalam mobil Sunggyu yang hangat. Kugerakkan tubuhku untuk menggeliat, mengendurkan kekakuan otot-ototku.

“Nyenyak sekali, kau bahkan lupa tentang acara kencannya,” suara Sunggyu berada di sampingku, begitu kutoleh dia menyeringai padaku.

“Maaf, apa kita sudah sampai di tempat kencan?” aku melirik sekitar tempat mobil Sunggyu berhenti. Dan aku mendapati kenyataan yang mencengangkan, kami masih berada di parkiran sekolah seperti tadi sebelum aku tertidur.

“Mana mungkin aku membawa pergi orang yang tertidur begitu lelap?” suaranya terdengar frustasi, membuatku merasa bersalah.

“Ah, aku minta maaf. Kenapa tidak membangunkanku?”

“Kau terlalu nyenyak, sampai mengigau.” terdengar nada menggoda dari ucapan Sunggyu.

“Tidak mungkin!” sahutku menahan napas, wajahku memanas hingga ke garis rambut. Aku tahu aku suka mengigau ketika tidur, tentu saja; Sungyeol selalu menggodaku soal ini. Meski begitu aku tidak menyangka Sunggyu akan mengetahui hal ini juga.

“Kau mengatakan, ‘Aku memang mencintainya?’” ia tertawa lembut, berharap aku bisa melihatnya, dan tidak membuatku tersinggung lagi.

“Ada lagi?” desakku.

Ia tahu maksudku. “Kau memanggil namaku, dengan sangat mesra,” ia mengakui.

Aku mendesah malu. “Benarkah?” bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi. Aku benar-benar malu dan kesal. Tanpa sengaja aku melihat jam di dasbor itu lagi, sudah jam enam. Aku menghitung-hitung waktu yang kuperlukan untuk sampai ke Le Chateaux, sekitar duapuluh menit, jadi aku masih punya waktu kurang lebih duapuluh lima menit untuk merayu Sunggyu.

“Sunbae, kau marah karena kita tidak jadi pergi?” kumainkan jari telunjukku pada dasbor di hadapanku.

“Untuk apa aku marah? Hanya sedikit kesal karena harus menemanimu tertidur lama sekali,” Sunggyu tak menatapku, dia menyetel musik dengan volume pelan.

“Apa yang bisa kulakukan untuk membayar kekesalanmu?” mataku berputar dan alisku terangkat.

“Tidak ada,” suara angkuhnya kembali muncul.

“Oh,” keluhku seolah-olah menyesal. “Sunbae, boleh aku memanggilmu Oppa? Aku ingin lebih akrab denganmu,”

“Terserah kau saja,” sahutnya pasrah, tiba-tiba dia menoleh dan memandangiku. “Boleh aku pinjam ponselmu?”

Aku meringis dan mengambil ponselku dari dalam tas. Aku menghela napas lega karena sudah mengganti nama kontaknya yang semula ‘GrandpaGyu’ jadi ‘My SweetGyu’. Kurasa dia akan memeriksanya sekarang.

Dia mengembalikan ponselku setelah mengutak-atiknya sebentar, aku merasa bosan karena tak ada yang ingin kulakukan untuk merayunya lagi. Jadi kuputuskan saja untuk segera pergi ke Le Chateaux.

“Sampai jumpa,” aku membuka pintu mobil dan keluar. “Oppa.” tambahku sebelum menutup pintu, dan dia nampak terkejut dengan panggilan baruku.

Dengan hati-hati aku menyeret sepedaku keluar dari lapangan parkir, mobil Sunggyu masih di tempatnya semula. Mesin dan lampunya menyala, membuatku silau saat lewat di depannya. Aku melambaikan tangan sebelum naik keatas sepeda dan mengayuh pergi keluar dari gerbang sekolah.

Kakiku hampir kram saat mengayuh di tanjakan, beberapa blok sebelum Le Chateaux. Udara yang dingin juga membuat kakiku terasa gemetar dan kaku, semoga saja aku tak terserang ‘hipotermia’ karena cuaca dingin ini.

Akhirnya aku berhasil sampai di gang belakang gedung Le Chateaux, dan memarkir sepedaku diantara sepeda pegawai lainnya. Kemudian masuk melaui pintu belakang yang tembus ke ruang pegawai. Kulihat Sunyoung dan Minha memakai pakaian aneh, baju pelayan ala meido warna off white dengan korset luar warna hitam dan dilapisi celemek berenda warna senada dengan korsetnya. Lengannya yang pendek bergelembung dan berkerut-kerut di ujungnya. Ada lagi yang membuatku geli, hiasan dari kain berenda yang dipasang di kepala mereka dan stoking setinggi paha.

“Ada apa dengan seragam kalian?” aku hampir berteriak, tapi Manager Nam masuk ke ruangan kami.

“Itu seragam baru untuk pelayan wanita,” ucapannya di setujui oleh Sunyoung dan Minha yang menganggukkan kepalanya bersamaan.

“Seragam baru?” aku memekik, namun Manager menatapku dengan tatapan mengancam, jadi aku segera menutup mulutku dengan tangan.

“CEO muda dari Kim Enterprises Holdings Inc, yang menaungi restauran kita memerintahkan kami melakukan ini. Seragam yang dulu terlalu monoton, dia ingin menarik pelanggan dengan penampilan para pelayan yang ‘kawaii’ seperti ini.” Manager nampak menahan senyum ketika menyebut kata ‘kawaii’ tadi.

Untuk sesaat pikiranku terasa kosong. Apa ada yang salah dengan kemeja linen putih dan rok hitam sepanjang lutut yang menjadi seragam pelayan dulu. Kenapa harus dirombak habis-habisan seperti ini? Pakaian yang terlalu berlebihan untuk seorang pelayan di restauran steak berbintang dua ini.

“Ah sudah sudah. Cepat pakai seragam barumu itu!” Manager Nam menunjuk satu set pakaian seperti milik Sunyoung dan Minha yang tergantung di sebelah loker pegawai.

Aku mendesah kalah dan mengambil pakaian itu, lalu membawanya ke ruang ganti. Aku memakainya dengan tidak senang, tapi senyum di bibirku tak boleh hilang saat menghadapi para tamu yang datang. Jadi aku pura-pura ceria sepanjang waktu kerjaku.

Namun aku sempat merengut dan memprotes hal ini saat bersama Sungjong, karena seragam pelayan pria tak banyak berubah. Kemeja linen putih, celana flanel hitam dan celemek panjang dari pinggang sampai mata kaki. Hanya ditambah sebuah vest warna hitam dan dasi kupu-kupu.

“Benar-benar tidak adil,” gerutuku sambil membilas piring-piring yang sudah di gosok dengan sabun oleh Sungjong.

“Tapi kalian jadi terlihat lebih muda dan ‘kawaii’.” hibur Sungjong bersemangat.

“Terimakasih. Tapi pakaian ini menggelikan, aku tidak tahu seperti apa CEO muda yang membuat kebijakan ini. Seleranya payah,” protesku sambil membilas piring terakhir, kemudian mengajak Sungjong bergabung dengan para pegawai lain yang berada di ruang karyawan.

Mereka semua yang berada di ruang karyawan adalah pegawai-pegawai paruh waktu sepertiku. Kebanyakan sudah kuliah, hanya aku dan Minha saja yang masih SMA. Kami mengobrol kecil seperti biasa saat restauran sudah tutup, sekitar pukul setengah duabelas.

Tapi aku selalu menjadi pengkhianat karena sering pulang terlebih dulu sebelum acara mengobrolnya selesai. Malam inipun aku menjadi pengkhianat, setelah mengganti seragam konyol-ku tadi dengan seragam sekolah yang kupakai saat datang kesini, aku berpamitan pulang.

Kakiku tersaruk-saruk saat keluar dari gedung dan menyusuri parkiran kecil tempat sepedaku berada. Rasa dingin menyergap tubuhku lagi, sialnya malam ini aku lupa membawa jaket, jadi kubiarkan saja tubuhku menggigil karena angin malam.

“Noona,” sebuah panggilan mengagetkanku saat aku membuka kunci sepeda dan meletakkan tasku ke dalam keranjang sepeda.

“Yeolli-ah, kenapa kesini?” mataku membulat, mendapati Sungyeol tengah berlari kecil ke arahku.

“Kau lupa membawa jaket,” dia menyodorkan jaket tebalku dan kuterima segera.

“Mana sepedamu?” tanyaku setelah menaikkan resleting jaket dan memutar sepeda.

“Aku berjalan kaki,” Sungyeol meraih setang sepeda dari tanganku, dan menaikinya. “Naiklah Noona, aku tak ingin kau mengayuh sendiri malam ini!”

Aku merengut, tapi bergegas naik di belakang Sungyeol. Tanganku berpegang erat-erat pada tubuhnya yang kurus, mengantisipasi agar tidak terjatuh karena Sungyeol tak pernah pelan-pelan saat memboncengku.

TBC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s