Another Me: 1.White Confession

wc1

~Another Me : 1. White Confession

Author : ❤ Adminchan
Genre : Romance, Family, Chapter
Rating : PG 17
Casts : – Kim Sunggyu [INFINITE]
– Lee Sungyeol [INFINITE]
-Lee Minyeol [Fiktif]
-Kim Nari [Fiktif]
NB : Nama restauran ‘Le Chateaux’-nya ngambil dari nama restauran di salah satu game favorit Adminchan. Ada yang tahu?

Aku melangkahkan kakiku ragu-ragu menyusuri lorong gedung apartemen dan berhenti di depan pintu yang berada di ujung lorong. Kutekan tombol bel di sebelah pintu dengan perasaan was-was, tanganku sampai gemetaran. Pintu terbuka setelah aku menunggu beberapa detik dengan gelisah.

Seorang pria muncul dari balik pintu, dan pria itu memang orang yang ingin kutemui, sampai-sampai aku berbohong pada Sungyeol kalau hari ini aku pergi menemui Jung Sam. Dia Kim Sunggyu, sahabatnya Nari (pacar Sungyeol).

“Kau? Bukankah kau temannya Nari?” nada bicara Sunggyu terdengar sedikit tidak ramah, dan dia membiarkan aku tetap berdiri di depan pintu tanpa menyuruhku masuk ke apartemennya.

“Ah, iya.” aku terdiam sejenak. Kupandangi Sunggyu takut-takut. “Kumohon, pergilah berkencan denganku,”

Ucapanku membuat Sunggyu tersentak, ekspresi terkejut dan heran terukir diwajahnya seketika. Matanya yang kecil menyipit padaku. “Kau bilang apa? Kencan?” tanyanya tergelak, tangannya berada di pinggang memasang sikap mengejek padaku.

“Iya.” jawabku singkat, ragu dan malu. “Aku menyukai Sunbae, jadi pergilah kencan denganku,” aku membungkuk-bungkuk, kuharap kesopananku ini bisa menarik perhatiannya dan pria tampan itu mau pergi berkencan denganku.

“Kau pikir aku mau pergi kencan denganmu?” sergahnya. Kepalanya miring ke satu sisi dan alisnya terangkat. Tampan, tapi mengesalkan.

Rahangku mengeras dan terkatup rapat menahan kekesalanku. Aku tak boleh menyerah, aku harus bisa mendapatkan pria ini, atau kalau tidak Sungyeol akan bersedih. Aku kembali membungkuk, kali ini lebih dalam hingga tubuhku membentuk sudut 90 derajat, aku berada dalam posisi itu selama beberapa saat.

Jengah dan malu menyapu wajahku. “Kumohon. Aku benar-benar menyukai Sunbae,” aku memang tak pandai mengatakan hal yang berbeda dengan hatiku, tapi kali ini tak terdengar nada pura-pura dari suaraku, jadi kuanggap aku sudah berhasil berbohong.

Aku menegakkan tubuhku untuk melihat ekspresi Sunggyu setelah mendengar permohonanku. Ternyata tetap saja ekspresi datar terpahat di wajahnya yang keras, nyaris seperti patung batu. Tapi tiba-tiba dia tersenyum kecil.

“Aku mau pergi denganmu, tapi bukan untuk kencan.” bola matanya berputar dua kali, lalu menatapku tanpa bisa kutebak maksudnya. “Kita akan bermain game,”

Aku mengernyit heran. “Maksudmu?” desakku menuntut, tanpa memperdulikan tatapannya yang tajam.

“Begini, kita akan melakukan kencan percobaan,” dia berhenti, bibirnya mencebik, ingin menahan tawa, kurasa. “Aku mau pergi kencan denganmu asal kau berhasil membuatku senang selama kencan percobaan,”

Ucapannya membuatku terkejut dan keheranan, kata ‘kencan percobaan’ masuk ke otakku, terproses untuk dicerna oleh saraf penerjemah kata-kata yang biasanya selalu bekerja secara otomatis dengan cepat, tapi kali ini sedikit lambat sampai aku harus kembali mengulang pertanyaanku.

“Maksudmu, apa?” ulangku bertanya.

Sunggyu menyeringai melihatku tak cepat tanggap dengan penjelasannya. Oke, dia memang salah satu murid terpandai di sekolah, jadi aku bisa maklum kalau dia mentertawai ke bodohanku yang tak pernah mendapat peringkat di kelas.

“Kita akan pergi berdua, seperti berkencan. Tapi sebenarnya itu hanya percobaan, jika kau bisa membuatku senang bersama denganmu, kita akan berkencan sungguhan.” jelasnya, kali ini sedikit lebih sabar, dan sebuah senyum manis tersungging di bibir tipisnya.

Aku mendesah lega setelah mengerti maksudnya. Kuharap ini bisa sedikit membantu misiku. “Terima kasih.” aku berusaha terlihat seceria mungkin untuk membuatnya merasa puas.

Dia mengangguk angkuh. “Pulang sekolah besok, kita bisa mulai kencan percobaannya,” ucapnya, lalu memutar tubuh dan masuk ke dalam apartemennya.

Aku meringis mendengar suara pintu ditutup dengan keras, dibanting. Belum sempat aku mencaci-maki sikapnya dalam hati, ponsel di saku kemejaku bergetar. Aku mengeluarkannya, lalu menekan tombol ‘answer’ untuk menjawab panggilan dari Sungyeol.

“Ada apa?” ucapku begitu telepon tersambung.

“Noona, apa kau melihat kacamataku? Aku sudah mencarinya kemana-mana,” suara Sungyeol tetap saja melengking dan serak, nadanya begitu manja.

“Aku menyimpannya di meja samping tempat tidur, laci nomor 3.” jelasku. Dia memang selalu meletakkan barang-barang pentingnya sembarangan, tadi saja aku menemukan kacamatanya di konter dapur.

“Oh, terima kasih. Apa urusanmu dengan Jung Sam masih lama?”

“Tidak. Ini sudah selesai, kenapa?”

“Aku lapar, kau belum memasak untuk makan malam, ‘kan?”

Oh, aku jadi teringat kalau saat pergi tadi belum menyiapkan makanan untuk anak itu. “Maaf, akan kubelikan bibimbap di jalan. Tunggu saja,”

Aku mematikan ponselku dan bergegas keluar dari gedung apartemen Sunggyu, langkahku menjadi begitu cepat saat mengingat kalau adikku sedang kelaparan sekarang, bahkan aku nyaris berlari agar segera sampai di kedai makanan langgananku.

Oh tidak. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasakan ada butir-butir air menetes ke kulitku. Aku menengadah, dan tetesan butir-butir air itu semakin banyak dan cepat, menerpa wajahku. Sial. Aku mengumpat dalam hati karena situasi ini membuatku harus berteduh di depan sebuah toko yang sudah tutup, bisa mati si Sungyeol nanti kalau aku tak cepat datang.

Aku mengeluarkan ponselku dan kembali menelpon Sungyeol, dia langsung menjawab pada dering pertama. “Sungyeol-ah, aku kehujanan, jadi mungkin akan sedikit terlambat. Kau masih bisa menahan laparmu?”

Kudengar Sungyeol mendesah di ujung telponnya. “Sebenarnya, aku tidak tahan lagi…..”

“Baiklah, aku akan berlari menembus hujan agar segera sampai. Kau tahanlah sebentar lagi,” aku hampir melangkah meninggalkan teras toko, namun Sungyeol mencegahku.

“Jangan Noona, aku memang tidak tahan, tapi aku sudah membuat mi instan. Jadi aku tidak lapar lagi,”

“APA?” aku tidak bisa menahan untuk tidak berteriak. “Berapa kali kubilang, jangan pernah memakan mi instan,” omelku dengan suara keras, aku yakin Sungyeol pasti sedang menyesali perbuatannya.

“Tapi kenapa kau mempunyai persediaan mi instan kalau tidak boleh dimakan?” suaranya pelan, sedikit was-was.

“Ya Tuhan, itu hanya untuk persediaan kalau sudah benar-benar tak ada makanan lain,” aku menghela napas, dan menggeleng-geleng kesal. Tepat pada saat itu sebuah mobil sedan, eh bukan, tapi sebuah mobil panjang berwarna cokelat mengkilat berhenti di depan teras toko. Rolls Royce. Aku hampir memekik melihat mobil supermewah seperti itu berada di depan mataku.

Tiba-tiba kaca otomatisnya terbuka dan sebuah sebuah kepala melongok dari dalam. Hari yang sudah gelap membuatku tak mengenali orang itu.

“Ya, masuklah!” teriak pemilik mobil yang ternyata adalah Sunggyu, aku mengenali suaranya meskipun diantara gemuruh hujan deras.

“Noona, siapa yang meneriakimu?” aku baru ingat kalau telponku masih tersambung dengan Sungyeol, dia pasti mendengar teriakan Sunggyu.

“Ah, bukan siapa-siapa. Aku akan menutup teleponnya,” setelah memasukkan ponselku kedalam saku kemeja, aku berlari ke mobil Sunggyu, aku harus menuruti perintahnya agar dia bisa menyukaiku. Aku membuka pintu belakang, tapi Sunggyu melarang dan menyuruhku duduk di depan.

Aku mengitari depan mobil, membuka pintu lalu duduk di jok kulit abu-abu muda di sebelah Sunggyu. Pakaianku sedikit basah, membuatku menggigil kedinginan.

Sunggyu melirikku, lalu menyalakan pemanas mobil yang interiornya begitu mempesona ini, tak bisa kuungkapkan lewat kata-kata. Terlalu sempurna dan elegan, sesuai dengan penampilan luarnya yang eksotis. Kabinnya menggunakan kulit banteng dan karpetnya dari bulu domba, menambah kesan begitu mewah.

“Jadi, dimana rumahmu,” suara Sunggyu membuyarkan lamunanku akan kemewahan mobil yang di produksi oleh perusahaan mobil di Inggris ini.

“Eh, aku tinggal di gedung apartemen ‘Escala’, lima blok dari sekolah kita.” jawabku ragu, menerka-nerka apa pria ini berniat mengantarku pulang dan sengaja mengikutiku.

Sunggyu menyalakan mesin, hanya dengan menekan sebuah tombol berwarna hijau, dan dengkur mobil yang halus menggema di belakang kami. Pelan-pelan dia menjalankan mobilnya, meningalkan jalan kecil di belakang gedung apartemennya. Begitu sampai di jalan umum, laju mobil menjadi cepat, namun terasa begitu stabil.

“Aku belum tahu namamu,” ucap Sunggyu tiba-tiba, membuatku menoleh padanya.

“Aku, Lee Minyeol.” tak heran jika pria sekelas Sunggyu tak tahu namaku, itu memang hal yang wajar karena aku benar-benar tidak populer di sekolah.

“Nama yang pasaran,” dia bergumam, tapi telingaku dapat mendengarnya.

Aku ingin memarahinya, tapi tak jadi. Aku menelan kembali kekesalanku hingga menggumpal di tenggorokanku, terasa sakit. Senyum yang kini muncul di bibirku-pun terasa sangat kupaksakan.

“Memang begitu, tapi aku suka namaku,”

Dia melirikku, senyum separuh muncul lagi dari wajah mengejeknya. Mempesona, kuakui semua yang ada pada diri pria itu memang sanggup mempesona siapapun termasuk aku, tapi tidak dengan sikapnya yang arogan dan angkuh.

Aku terkesiap begitu mobil berhenti, dan aku sadar kalau kami sudah sampai di parkiran apartemenku. Apartemen yang tak bisa dibandingkan dengan apartemennya yang mewah dan elegan.

“Terima kasih,” aku melepas sabuk pengaman yang tadi kukaitkan di tubuhku, lalu mengangguk dan tersenyum pada pria itu.

“Ya, pakai ini! Hujannya sangat deras,” dia melemparkan jaket hitam yang tadi dipakainya kearahku.

Aku memakainya, menutupkan tudung jaket itu untuk melindungi kepalaku dari hujan. “Terimakasih, lagi.” aku segera keluar dan berlari dengan cepat menuju teras gedung, menghindari hujan.

Aku menoleh untuk memastikan bahwa Sunggyu sudah pergi. Ternyata Rolls Royce elegan itu sudah berbelok, keluar dari lapangan parkir. Samar-samar aku memandangi lampu belakang mobil itu, berbentuk grille besar dengan lapisan chrome yang membuatnya mengkilap di bawah sinar lampu jalan.

Aku mendesah dan melangkah masuk setelah mobil itu tak terlihat lagi. Kurapatkan jaket wol yang kebesaran di tubuhku, milik pria angkuh itu. Aku bergidik, bahkan aroma jaket ini juga menyeruak angkuh seperti pemiliknya.

Beberapa orang yang berpapasan denganku di lorong, memperhatikanku dengan tatapan lucu. Mungkin karena aku kebasahan. Dan kuperiksa pakaianku yang basah di balik jaket Sunggyu, seketika mukaku memerah malu menyadari kalau ternyata kemeja putihku yang basah menampakkan bra di baliknya.

Kunaikkan resleting jaket, dan bergegas masuk kedalam lift sebelum rasa maluku bertahan lebih lama lagi. Tapi aku merasa sedikit bersyukur karena Sunggyu meminjamkan jaketnya padaku, mungkin dia memang menyadari tentang kemeja transparanku ini. Aku jadi malu mengingatnya.

Pintu lift terbuka, aku keluar menyusuri lorong lalu berbelok kekanan dan berhenti di pintu ke 3. Kutekan sandi yang harus kumasukkan untuk membuka pintu, di sebuah papan penuh tombol, sebelah kanan pintu. Kulepas sepatu kets-ku yang basah dan menggantinya dengan slipper merah muda milikku.

“Sungyeol-ah,” panggilku karena tak melihat anak itu di ruang tamu dan ruang duduk.

Aku membuka pintu kamar, dan kulihat Sungyeol tengah berada di meja belajar tua kami. Kedatanganku membuat dia kaget hingga melonjak di kursinya. Tiba-tiba matanya yang lebar memandangiku heran, aku tahu apa yang dipikirkan olehnya—jaket Sunggyu yang tengah kupakai saat ini.

“Noona, jaket siapa yang kau pakai?” tatapannya tak suka, karena dia pasti tahu kalau jaket ini adalah jaket lelaki.

“Milik Jung Sam, dia meminjamiku karena aku kehujanan,” bualku. Mustahil dia tidak marah kalau tahu jaket ini adalah milik Sunggyu. Bukan karena apa-apa, tapi dia tak suka kalau aku sedikit akrab dengan seorang pria dan aku tak memberitahunya.

Sungyeol mendesah lega dan kembali menghadapi buku di mejanya, aku mengambil piyamaku dari lemari dan pergi ke kamar mandi yang berada di luar kamar. Tanpa sadar aku memikirkan ucapan Sunggyu tentang kencan percobaan yang dia ajukan padaku dan sudah kusetujui.

Mendadak aku jadi bimbang, apa perlu aku melakukan semua ini? Tapi kalau aku tidak membuat Sunggyu suka padaku, dia pasti akan terus mengganggu hubungan Sungyeol dengan Nari. Pria itu menyukai Nari, dan aku tidak mau dia melakukan hal-hal yang bisa membuat Sungyeol bersedih.

Kutatap wajahku di cermin wastafel, merapikan rambutku yang kusut dan basah dengan sikat rambut. Alam bawah sadarku berteriak, memaksaku untuk tetap menjalankan rencanaku agar Sungyeol tetap bahagia bersama Nari, dan bibirku tersenyum pahit, seakan tak menyetujui teriakan dalam tubuhku itu.Tapi hatiku menasehatiku dengan bijak, mendukung alam bawah sadarku.

Keyakinan sudah terkumpul dalam diriku, dan aku akan melakukannya, tak peduli meskipun Sunggyu angkuh dan arogan, aku tetap akan berpura-pura menyukainya.

Telepon rumah berdering, secepat kilat aku berlari ke ruang duduk dan mengangkat teleponnya. “Yeoboseyo?” ucapku begitu ujung telepon berada di depan bibirku.

“Kau meninggalkan ponselmu di mobilku,”

Aku tak perlu berpikir untuk menebak siapa yang tengah menelponku saat ini, dia pasti Sunggyu karena aku baru saja naik mobilnya. Sedetik kemudian, naluri sandiwaraku memaksa untuk memanfaatkan momentum ini.

“Oh, benarkah? Maaf, apa aku harus mengambilnya sekarang?” ini hanya taktik, dan aku berharap akan mendengar kata ‘tidak perlu’ darinya.

“Aku akan memberikannya besok, di sekolah.” suara tegasnya membuatku tersenyum dalam hati. Trik-ku berhasil.

“Baiklah kalau begitu, maaf sudah merepotkan Sunbae,” aku tersenyum licik sambil memegangi perutku yang terasa mulas karena senang telah berhasil mengelabuhinya dengan sikap manjaku ini.

Aku menjauhkan gagang telepon dari telingaku saat suara tut tut terdengar. Dia menutup teleponnya dengan tidak sopan. Tapi masa bodoh, aku sudah berhasil maju satu langkah untuk menggodanya. Ini menyenangkan.

Aku masuk ke kamar setelah mematikan semua lampu, Sungyeol masih belajar. Kacamata lebarnya membuat dia tampak semakin menggemaskan, bahkan aku yang saudara kembarnya-pun tak mampu menyaingi kepolosan wajahnya yang mempesona, nyaris seperti anak kecil tak berdosa.

“Belum selesai?” aku menarik kursi lipat di meja belajarku yang bersebelahan dengan meja belajarnya, lalu duduk dengan santai.

Sungyeol menggeleng, tatapannya masih terpaku pada buku di hadapannya. “Noona tidak belajar?” tukasnya mengingatkan.

“Ah, aku mengantuk. Kau lanjutkan saja belajarmu, aku akan tidur lebih dulu,” aku berdiri, mencium puncak kepala Sungyeol lalu melompat ke tempat tidurku yang berada di bawah tempat tidur Sungyeol. “Jangan tidur terlalu larut!”
Kutarik selimutku sampai dagu, lalu meninggalkan Sungyeol menuju mimpiku.

* * * *

Sungyeol membantuku memarkir sepeda di parkiran sekolah saat Nari datang, gadis itu memelukku sebentar lalu menghambur pada Sungyeol. Sikapnya yang ceria membuat suasana jadi menyenangkan.

“Ya, kau lupa, Sungyeol itu milikku,” aku menggoda Nari yang kini bergelayut mesra pada Sungyeol, dia meringis dan tersenyum manis.

“Maaf, aku lupa.” ucapnya dengan nada menyesal yang dibuat-buat, lalu menggamit lengan Sungyeol. “Tapi sekarang dia milikku,” Nari menjulurkan lidahnya, lalu membawa Sungyeol pergi dari hadapanku.

Aku tersenyum kecil, dan memutar tubuhku untuk meninggalkan parkiran. Namun seseorang menahan lenganku hingga aku berhenti. Sunggyu.

“Ah, Sunbae. Senang sekali kau menghampiriku, ada apa?” wajahku melembut dan kubiarkan ekspresi lugu menutupi rasa sinisku.

“Aku mengantarkan ponselmu,” tangannya yang besar mengulurkan ponselku dengan malas.

Aku mengambilnya. “Terima kasih,” ekspresi lugu di wajahku hampir hilang saat dia bersikap angkuh seperti itu, tapi aku berusaha untuk tidak terlihat kesal, dan kembali ceria.

“Kencan percobaan akan kita mulai nanti sore, sepulang sekolah,” dia mengingatkanku, wajahnya mengeras, seolah mengancam agar aku tidak melupakan hal itu.

“Iya, aku harus menghampiri ke kelas Sunbae atau kau akan ke kelasku?” kurasa ini jurus dasar yang dipakai para gadis untuk meminta pacarnya menjemput dikelas, mengatakannya secara tersamar.

“Kau tunggu saja di luar kelasku,” dia menyeringai kemudian pergi meninggalkanku.

Aku menggigit bibirku kesal, trikku kali ini tak berhasil. Dia tak terkecoh dengan kalimat tersamarku barusan.
Dengan tergesa-gesa aku berlari ke gedung sekolah dan masuk kedalam kelasku. Nari dan Sungyeol sudah disana, mereka memandangiku heran karena aku terengah-engah.

“Kau kenapa Noona?” Sungyeol menarikkan kursiku.

Aku duduk dan tersenyum padanya. “Gwaencanha,” ucapku sambil mengeluarkan buku pelajaran dari tas lusuhku.

Guru trigonometriku, Jung Sam datang dan pelajarannya yang membosankan dimulai. Membuat waktu terasa berjalan lambat. Oh, apa mungkin waktu yang terasa lambat ini karena pelajaran Jung Sam, bukan karena aku menunggu bel pulang segera berbunyi?

Segera kutepis semua bayangan tentang kencan percobaan yang akan dimulai nanti sore. Aku meyakinkan diriku kalau semuanya akan berjalan lancar, tak ada yang perlu ku khawatirkan. Dan aku menghela napas untuk mengurangi kegugupanku.

Sisa-sisa waktu sepanjang pagi sampai sore terasa lambat, tapi juga terlalu cepat. Sementara pikiranku tentang Sunggyu mendistorsi tiap detik yang kulalui, bahkan hingga bel pulang yang kutakutkan berbunyi.

Sungyeol mengajakku pulang, tapi aku mengatakan kalau aku harus segera pergi ke ‘Le Chateaux’ (restauran steak tempatku bekerja paruh waktu) karena shift-ku hari ini berubah. Sungyeol percaya dan dia pulang lebih dulu.

“Kau bisa memanaskan lasagna sisa tadi pagi untuk makan malam!” aku berteriak sebelum dia berbelok di koridor.

Pelan-pelan aku menyelinap pergi ke kelas Sunggyu yang berada di lantai empat, dan setelah sampai di depan pintu kelasnya, kakiku mendadak kaku. Aku mengintip kedalam kelas, sudah sepi—hanya ada beberapa gadis yang sedang berdandan.

“Maaf, apa kalian melihat Sunggyu Sunbae?” tegurku, masih di ambang pintu.

Mereka menoleh, menatapku tidak senang. Salah satu dari mereka berdiri. “Tidak, kenapa kau mencarinya?” suaranya ketus, suara yang menjadi ciri khas sunbae pada hobae.

“Aku disini,” suara tegas di belakangku menggema, bahkan sampai ke dalam kelas.

“Sunbae,” aku menoleh dan berjalan menghampiri Sunggyu yang sudah berdiri di belakangku. Tubuhku secara alami membungkuk, memberi salam hormat pada kakak tingkat-ku yang mempesona itu.

Dia mengangkat alisnya, lalu tersenyum licik ketika melihat gadis-gadis yang berada di dalam kelas tadi keluar. Mereka memandangiku yang kini sudah merapat pada Sunggyu untuk memberi mereka jalan.

“Kita akan kencan kemana?” Sunggyu menghadapku, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke telinga gadis-gadis itu, kurasa.

Aku bergetar, bukan karena tatapan tajam para gadis itu, tapi karena Sunggyu kini memegangi sikuku. Kuangkat kedua bahuku, hati-hati. “Terserah Sunbae saja,” aku berhasil menjaga suaraku tetap stabil, tidak bergetar seperti tubuhku.

“Baiklah kalau begitu, aku yang menentukan tempatnya,” Sunggyu membawaku berjalan menerobos para gadis yang berdiri mematung di tempat mereka, tangannya yang kuat menarikku hingga aku berjalan tersaruk-saruk.

Kami berhenti begitu sampai di parkiran, tepat di sebelah mobil hitam mengkilap. Dia melepaskanku hingga aku terhuyung. Tangannya dengan cepat membuka pintu penumpang mobil itu. “Cepat masuk,” perintahnya, lalu masuk ke kursi pengemudi.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s